Gadis Seksi Di Jalanan Siang Bolong

Beberapa hari lalu saya pergi berbelanja ke sebuah minimarket di bilangan Balai Rakyat Pasar Minggu. Saat pulang aku berpapasan dengan dua gadis cantik. Keduanya terlihat seksi, cantik, dan atraktif. Postur tubuh keduanya tinggi dan tampak terawat layaknya gadis metroseksual. Aku sesaat terkesima. Bagaimana tidak, kaki mulus mereka hanya dibalut dengan rok mini. Ternyata tidak hanya aku yang merasa demikian. Saat kuamati sekitar, hampir semua pria menatap mereka dengan cukup tajam, seakan hendak menelanjangi kedua perempuan cantik ini. Sejenak aku memuji kecantikan dan keseksian mereka.

Tapi saat aku semakin mendekat, kebetulan saya dan keduanya berjalan berlawanan arah, salah satu gadis cantik itu menghampiriku sambil menyodorkan tangannya ke arahku. Ia menggenggam sebungkus rokok merek tertentu. “Pak beli, selagi diskon nih”, suara seksinya menggema. Sorot mataku pun tertuju pada tangan mulusnya . Saat aku tahu yang ditawarkannya adalah rokok, rasa kagumku pun buyar dan berubah menjadi rasa antipatik. “hemm…dikirain malaikat, ternyata setan korban kapitalisme global”, gumamku dalam hati. Mungkin reaksiku berlebihan, kebetulan aku memang tidak merokok dan sedikit anti dengan yang berbau rokok.

Rokok di tangan dan penampilan seksi dengan rok mini dua gadis tadi, tentu tidak kebetulan. Ini sebuah strategi penjualan yang diprakarsai sistem ekonomi kapitalis di era liberalisasi ekonomi yang merupakan anak emas dari globalisasi.

Menurut pemikir Marxist, salah satu ciri khas kapitalisme adalah menjadikan segala sesuatu sebagai komoditi, barang yang diperjual-belikan. Apa hubungannya dengan rok mini dan rokok? Rok mini tentu hanya memancing perhatian agar rokok yang mereka jual dilirik orang. Layaknya iklan di televisi yang kebanyakan memancing penonton dengan hal-hal beraroma seks dan kevulgaran. Dengan kata lain, menjual paha mulus dan keseksian agar barang yang perdagangkan laku.

Dalam konteks ini, tidak hanya rokok yang jadi komoditi tetapi juga perempuan yang menjual rokok tersebut. Harkat manusia pun menjadi lebih rendah dari sebungkus rokok. Dalam analisa kaum Marxist, Kapitalisme memang cenderung merendahkan manusia. Bahkan manusia dijadikan alat. Teori Marx soal “keterasingan pekerja” pun mengena dalam konteks ini. Kedua perempuan tadi hanya menjadi alat dari sebuah sistem ekonomi yang mendewakan UANG. Demi uang orang lupa diri bahkan “melacurkan” diri, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Bila dibandingkan dengan petani di kampung, harga diri para petani masih lebih tinggi dari dua perempuan cantik tadi. Lhoh kok bisa? Para petani tidak menempatkan dirinya sebagai alat. Dia tidak terasing dari dirinya dan pekerjaanya. Ia bekerja dilandasi kesadaran sebagai manusia yang bekerja, “homo faber”, dan ia menikmati hasil pekerjaannya dan menempatkan dirinya sebagai manusia yang otonom. Itulah keluhuran manusia dan pekerjaannya.

by: ardi fantur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s